Soekarno dan Penemuan Makam Imam Bukhari
sejarah
Diterbitkan: 2026-10-04 | Ziarah Uzbekistan
Soekarno dan Penemuan Makam Imam Bukhari
Di antara ribuan makam sejarah yang tersebar di seluruh dunia Islam, ada satu yang memikat khusus bukan hanya karena sang penghuninya, tetapi karena sebuah peristiwa politik lintas benua yang melibatkan seorang presiden Indonesia. Makam Imam Bukhari โ pemimpin yang dikenal sebagai Amirul Mukminin fil Hadits (Pemimpin Ulama dalam Ilmu Hadits) โ menyimpan kisah menakjubkan tentang bagaimana seorang kepala negara Indonesia meminta Uni Soviet menemukan dan memulihkan makam seorang ulama yang dihormati ribuan tahun lamanya.
Kisah ini bukan sekadar anekdot sejarah. Ia adalah jembatan emosional dan spiritual yang menghubungkan Tashkent, Bukhara, Samarkand, Khiva, dan Termez di Uzbekistan dengan Jakarta, Indonesia. Inilah narasi yang menjadikan Uzbekistan punya ikatan khusus yang jarang dimiliki negara manapun dengan Indonesia โ khususnya dalam hal ziarah agama.
๐ Latar Belakang: Undangan ke Moskow pada 1956
Pada tahun 1956, Presiden Soekarno menerima undangan ke Moskow dari pemerintah Uni Soviet. Pada masa itu, Indonesia sedang membangun hubungan diplomatik yang erat dengan blok Timur sebagai bagian dari politik bebas aktif dan Gerakan Non-Blok. Namun Soekarno, yang dikenal sebagai tokoh multibahasa dengan kepekaan agama yang mendalam, tidak datang dengan tangan kosong โ ia membawa satu syarat yang mengejutkan.
Menurut informasi yang tercatat pada wapresri.go.id dan mpr.go.id, Soekarno menyampaikan syarat kepada pemerintah Uni Soviet: temukan dan bangunkan kembali makam Imam Bukhari sebelum ia datang ke Moskow. Permintaan ini bukan sekadar diplomasi halus โ ia mencerminkan betapa dalamnya kedalaman sejarah Islam yang dirasakan oleh Soekarno, terutama mengenai sosok Imam Bukhari yang selama ini dianggap sebagai salah satu ulama paling berpengaruh dalam sejarah peradaban Islam.
"Al-Ulamฤ'u warasatul Anbiyฤ'." โ "Para ulama adalah pewaris para nabi."
(Hadits riwayat al-Tirmidzi)
Hadits ini โ yang sering dikutip ulama besar dunia Islam โ menjelaskan mengapa Soekarno menempatkan keseimbangan antara politik dan spiritual dalam agenda kebangsaannya. Imam Bukhari, dengan karyanya Sahih al-Bukhari, adalah salah satu contoh nyata mengapa kedudukan ulama dalam peradaban Islam begitu agung.
๐ Pencarian di Semak Belukar: Penemuan yang Mengubah Kedatangan Soekarno
Pemerintah Uni Soviet tidak menanggapi permintaan ini dengan santai. Sebuah tim pencarian dikerahkan untuk menemukan lokasi makam Imam Bukhari yang sebelumnya terlantar dan terlupakan. Hasil pencarian membawa mereka ke desa Khartank, tak jauh dari kota Bukhara โ tanah kelahiran dan tempat bersemayamnya Muhammad bin Ismail al-Bukhari (lahir 194 H / sekitar 810 M).
Yang ditemukan di sana bukan kompleks makam megah layaknya wisma pemimpin ulama. Sebaliknya, makam Imam Bukhari ditemukan dalam kondisi terlantar, seakan telah dilupakan oleh waktu dan masyarakat di sekitarnya. Tidak ada perawatan, tidak ada perhatian โ hanya situs tua yang hampir menenggelam ke dalam vegetasi.
Pemerintah Soviet kemudian membersihkan dan memugar makam tersebut. Upaya perbaikan dilakukan secara cepat namun cukup signifikan untuk menjadikan makam ini layak dikunjungi โ sebagai persiapan untuk kedatangan Presiden Soekarno.
๐ Peta Perjalanan Ziarah: Uzbekistan dan Tokoh-Tokoh Besar Islam
| Lokasi | Karakteristik Utama | Kaitan dengan Ziarah Islam |
|---|---|---|
| Tashkent | Ibu kota Uzbekistan, kota modern dengan warisan Islam | Titik awal perjalanan ziarah, mengenali sejarah Islam di Asia Tengah |
| Bukhara | Kota tua bersejarah, pusat ilmu pengetahuan Islam | Kota kelahiran Imam Bukhari, lokasi penemuan makam di desa Khartank |
| Samarkand | Surga arsitektur Islam, warisan dinasti Timuriyah | Makam Imam al-Maturidi, pusat kajian teologi (tauhid) Islam |
| Khiva | Kota tua berdinding, museum hidup Islam di Asia Tengah | Warisan peradaban Islam Asia Tengah yang masih terjaga |
| Termez | Kota di tepi Amu Darya, gerbang wilayah selatan Uzbekistan | Titik dekat dengan makam Imam Abu Hanifah dan ulama besar lainnya |
๐ Versi Populer: Soekarno yang Melepas Sepatu di Makam
Setelah makam dipugar, Presiden Soekarno berkunjung ke Uzbekistan pada tahun 1956. Menurut versi populer yang berkembang luas โ termasuk dalam ingatan kolektif masyarakat Uzbekistan hingga hari ini โ Soekarno melepas sepatunya dan berdoa di makam Imam Bukhari.
Gestur ini, bagi banyak orang, bukan sekadar rasa hormat protokoler. Melepas sepatu saat memasuki area suci adalah tradisi universal dalam Islam โ mengenai kesucian tempat di mana para ulama dan orang saleh beristirahat dari perjuangan mereka. Apabila tradisi ini memang terjadi, maka Soekarno menempatkan dirinya bukan hanya sebagai kepala negara yang berdiplomasi, melainkan sebagai seorang muslim yang menghargai warisan ilmu Islam secara mendalam.
"Manzilatu al-'ulama'i 'indallaahi hiya ahsanu al-manzilat." โ "Tempat para ulama di sisi Allah adalah tempat yang paling utama."
(HR. al-Nasa'i dalam Sunan-nya)
Para ulama bersepakat bahwa kedudukan ulama di sisi Allah sangat agung. Imam Bukhari sendiri menulis dalam pembukaan karyanya: "Dengarkanlah hadits-hadits ini, karena ini adalah hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang sahih." Kata "saheeh" yang berulang di awal setiap bab Sahih al-Bukhari menjadi standar kajian hadits yang diakui oleh seluruh dunia Islam โ dan inilah warisan yang Soekarno hormati dengan cara yang sangat manusiawi.
๐๏ธ Juni 2023: Ziarah Wapres Ma'ruf Amin dan Usulan Soekarno Memorial Library
Di antara kepala negara dan kepala pemerintahan Indonesia, hubungan emosional dengan Uzbekistan yang dirintis Soekarno terus diperkuat. Pada Juni 2023, Wakil Presiden Ma'ruf Amin melakukan ziarah ke makam Imam Bukhari dan makam Imam al-Maturidi di Uzbekistan. Ziarah ini bukan sekadar kunjungan diplomatik โ ia merupakan perwujudan nyata dari semangat perziarahan yang dikembangkan oleh Indonesia dalam dekade-dekade terakhir.
Lebih jauh lagi, Wakil Presiden Ma'ruf Amin mengusulkan pembangunan Soekarno Memorial Library di kawasan makam Imam Bukhari. Usulan ini berpotensi menjadi tonggak sejarah: sebuah perpustakaan yang mengeksekutifkan kedua warisan sejarah yang saling terkait โ yaitu warisan ilmu Islam yang diwakili oleh Sahih al-Bukhari dan warisan kepemimpinan nasional yang diwakili oleh Soekarno.
Pembangunan perpustakaan semacam ini akan memberikan dimensi baru bagi kunjungan ziarah ke Uzbekistan. Selain berdoa di makam para ulama, pengunjung dapat menikmati wawasan yang lebih luas tentang sejarah Islam, diplomasi Indonesia dengan dunia Islam, dan jembatan emosional yang terjalin antara dua peradaban.
๐ UzbekistanโIndonesia: Ikatan Emosional yang Jarang Dimiliki Negara Manapun
Fakta-fakta di atas bukan sekadar catatan sejarah diplomatik. Mereka menjadikan Uzbekistan punya ikatan emosional khusus dengan Indonesia yang tidak dimiliki oleh banyak negara ziarah lainnya. Bagi warga Uzbekistan, Soekarno bukan sekadar presiden dari negara jauh โ ia adalah kepala negara yang peduli terhadap warisan ilmu Islam mereka di tengah kondisi terlantar pasca-revolusi.
Sebaliknya, bagi umat Islam Indonesia, Uzbekistan bukan sekadar negara tujuan ziarah. Ia adalah tempat di mana seorang presiden Indonesia pernah berdoa di kaki seorang ulama besar โ mengingatkan bahwa kekuasaan politik dan ketundukan spiritual bisa berdampingan dalam satu kepala negara.
Kombinasi inilah yang menjadikan program Napak Tilas Imam Bukhari memiliki daya tarik luar biasa. Ia bukan sekadar ziarah agama โ ia adalah pengalaman menyelami sejarah, merasakan jembatan emosional antara dua bangsa, dan menempatkan diri di lokasi tempat peristiwa sejarah itu terjadi.
๐ Mengapa Ziarah ke Uzbekistan Berbeda
- Sejarah yang hidup โ Anda berjalan di tempat yang sama tempat Soekarno berdiri dan berdoa.
- Ilmu yang nyata โ Bukhara, Samarkand, dan kota-kota lain merupakan laboratorium keilmuan Islam yang masih terasa hingga hari ini.
- Warisan ulama besar โ Imam Bukhari, Imam al-Maturidi, Imam Abu Hanifah โ semua bersemayam di tanah ini.
- Keramahan Asia Tengah โ Budaya ziarah, keramahan, dan kecintaan pada sejarah Islam yang khas.
- Perspektif diplomasi Islam โ Mengalami langsung hubungan Indonesia dengan dunia Islam dari sisi yang jarang dibahas.
Uzbekistan menawarkan perpaduan antara spiritualitas, sejarah, dan kearifan lokal yang jarang ditemukan di destinasi ziarah lainnya. Dari masjid-masjid tua di Bukhara hingga makam megah di Samarkand, setiap jalanan menyimpan cerita โ dan setiap cerita membawa kita lebih dekat pada warisan Islam yang menjadi identitas umat.
โจ Ajakan Berziarah: Panorama Nur Mecca
Kisah Soekarno dan penemuan makam Imam Bukhari mengingatkan kita bahwa perziarahan bukan sekadar perjalanan โ ia adalah pengalaman yang mengikat kita pada sejarah, mengingatkan kita pada kedudukan ilmu, dan membangun jembatan emosional antara masa lalu dan masa depan.
Bersama Panorama Nur Mecca, kami mengajak Anda mengikuti program Napak Tilas Imam Bukhari โ program ziarah yang dirancang untuk memberikan pengalaman lengkap: dari ziarah ke makam Imam Bukhari di dekat Bukhara, ke makam Imam al-Maturidi di Samarkand, hingga menyusuri warisan sejarah Islam di Tashkent, Khiva, dan Termez.
Ini bukan sekadar kunjungan ke tempat suci. Ini adalah perjalanan ke jantung peradaban Islam Asia Tengah, di tempat di mana para ulama besar beribadah dan berjuang menuntut ilmu โ dan di tempat di mana seorang presiden Indonesia pernah menunjukkan bahwa kekuasaan hanya bermakna jika dibarengi kecintaan terhadap ilmu.
Semoga Allah meridai perjalanan Anda, dan semoga langkah ini menjadi awal dari banyak ziarah-ziarah berikutnya.
"Ziyaratu al-Qubลซri bidhun al-'azฤriyah, wal-musฤfatu bidhun al-huburiyah." โ "Ziarah makam itu sebagai pengingat mati, dan menempuh perjalanan itu untuk menenangkan jiwa."
(HR. Ibnu Hibban dan al-Hakim dari Sayyidina Umar radhiyallahu 'anhu)
Kami menantikan perjalanan Anda bersama Panorama Nur Mecca. Hubungi kami sekarang untuk informasi lengkap tentang program Napak Tilas Imam Bukhari โ dan mari sejarah menjadi bagian dari perjalanan spiritual Anda. ๐